Kiat-kiat Menghadapi Degradasi Moral Generasi Millenial



Gilang Ramadhan*

Beberapa bulan terakhir bahkan beberapa tahun terakhir, banyak sekali berita-berita tentang penganiayaan terhadap pendidik atau guru yang dilakukan oleh wali murid. Banyak yang bertanya-tanya tentang kejadian tersebut, siapakah yang salah jika kejadian ini sudah terjadi? Banyak yang menyalahkan guru dan sekolahnya, banyak pula yang menyalahkan orangtuanya.

Salah satu kasus terhangat yang bisa menjadi pelajaran kita adalah, di salah satu sekolah yang berada di daerah sumbawa barat bahwa seorang guru dituntut 50 juta oleh pengadilan karena orang tua tidak terima anaknya diingatkan untuk melaksanakan shalat. Hal ini justru menjadi suatu yang menurut kacamata orang awam adalah sebuah keanehan. Bagaimana tidak, bahwa setiap manusia dicitpakan oleh Allah, tidak lain tidak bukan untuk menyembah-Nya, seperti yang di firmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala : 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (الذّاريات : 56) 

 Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS.Adz-Dzariyat:56)

Seharusnya orang tua membekali anaknya dengan ayat diatas, kenapa? Karena semewah apapun hidup kita, tidak akan berarti apa-apa jika tidak melaksanakan ibadah kepadaNya. Sejatinya, kita hidup hanya untuk menunggu waktu shalat. Adapun pekerjaan adalah bagian dari pernak-pernik kehidupan dunia.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua dan guru untuk memberantas degradasi moral ini? Berikut kiat-kiat memberantas degradasi moral yang terjadi pada generasi millenial : 

Bertakwa kepada Allah ﷻ

Rasulullah ﷺ bersabda : 


اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْـحَسَنَةَ تَمْحُهَا ، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah sesama manusia dengan akhlak mulia.” HR. At-Tirmidzi.

Takwa adalah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah ﷻ, dan menjauhi segala sesuatu yang Allah larang. Jika kita merasa hambaNya, maka sudah sepatutnya kita bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa adalah sebaik-baik bekal yang telah termaktub dalam al-Qur’an. 

Semua manusia dihadapan Allah derajatnya sama, kecuali mereka-mereka yang bertakwa kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات : 13)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.Al-Hujurat:13).

Memperhatikan yang halal dan yang haram

Orang tua harus mengetahui nafkah yang diberikan terhadap keluarganya wajib dengan nafkah yang halal dan baik. Harta yang baik memang belum tentu didapatkan dengan cara yang halal, akan tetapi harta yang didapatkan dengan cara yang halal sudah pasti baik. Karena Rasulullah ﷺ menggambarkan akan datang suatu zaman, yang mana seseorang tidak peduli lagi darimana dia mendapatkan hartanya, baik dengan yang halam maupun dengan yang haram. Rasulullah ﷺ bersabda: 


لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari no. 2083).

Dari hadits diatas, semua orang tua wajib memahami dan mengetahui mendapatkan harta dengan cara yang halal dan menjauhi yang haram, karena masing-masing keduanya memiliki dampak yang luar biasa. Salah satu contoh dampak harta yang halal terhadap keluarga adalah, anak menjadi takut kepada Allah dan adapun salah satu dampak dari harta yang haram adalah anak yang tidak takut kepada Allah dan tidak takut akan azab Allah. Oleh karenanya sudah seyogyanya, orang tua memperhatikan darimana dan bagaimana ia mendapatkan harta yang akan diberikan terhadap keluarganya. Dizaman ini, banyak sekali para orang tua tidak memperhatikan darimana harta yang dia dapat, yang ada dipikiran mereka adalah, yang penting pulang kerumah membawa uang, akan tetapi mereka tidak memikirkan keberkahan dan kehalalan yang ada di dalam rejeki yang ia dapat. Sejatinya halal itu belum tentu berkah, akan tetapi berkah itu insya Allah sudah pasti halal.

Filterisasi pertemanan

Berteman memang boleh kepada siapapun, namun ada batasan-batasan dalam berteman. Pengaruh pertemanan dalam pergaulan dan agama sesorang itu sangat berpengaruh, oleh karenanya agama Islam memberikan solusi dan standarisasi dalam bergaul. Rasulullah ﷺ bersabda:

المَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدَكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927).

Hadits diatas mengingatkan kita bahwa pengaruh teman dekat itu sangat luar biasa. Rasulullah memperumpamakan orang yang berteman denga orang yang shalih, seperti berteman dengan penjual parfum dan orang yang berteman dengan teman yang buruk seperti berteman dengan pandai besi/tukang besi. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa).

Menghadiri Majelis Ilmu

Menghadiri majelis ilmu adalah salah satu kiat yang dapat mencegah degradasi moral pada zaman yang oenuh dengan fitnah ini. Majelis ilmu dapat menumbuhkan keimanan dan ketaqwaan seorang hamba kepada Allah ﷻ.  Para malaikat mengelilingi  orang-orang yang duduk di majelis ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda: 

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالاَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ.)

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, mereka berdua berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir (mengingat) Allah, melainkan mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan sakinah (ketenangan), dan mereka disebut oleh Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.’” (HR. Muslim, no. 2700)

Faidah dari hadits tersebut adalah sebagai berikut:

Hadits ini menunjukkan keutamaan berkumpul dalam majelis dzikir.

Hadits ini tidak melazimkan dzikir itu mesti dengan satu suara seperti bentuk dzikir berjamaah yang dilakukan oleh berbagai tarikat sufi.

Orang yang berdzikir dan berada dalam majelis ilmu akan mendapatkan ketenangan hati dan kekhusyu’an, serta kembali kepada Allah.

Maksud diliputi oleh rahmat adalah mereka dekat dengan rahmat atau kasih sayang Allah.

 Dikelilingi oleh para malaikat sebagai bentuk pemuliaan kepada mereka dan tanda pekerjaan mereka disukai atau diridhai.

Mereka disebut pada sisi makhluk yang mulia, maksudnya mereka disanjung-sanjung oleh kelompok makhluk yang mulia yang lebih baik dari mereka yaitu di sisi para malaikat.

 Al-jaza’ min jinsil ‘amal, artinya balasan sesuai dengan amal perbuatan. Siapa yang berdzikir (mengingat) kepada Allah, maka Allah membalas dengan mengingat-Nya.

Berdoa Kepada Allah 

Seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sudah sepatutunya ia meyakini bahwa doa adalah senjatanya orang-orang mukmin. Doa adalah ibadah, sebagaimana yang Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنِ النُّعْمَانَ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النِّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Doa adalah intinya ibadah. Oleh karena itu doa itu mesti mukhlishan shawaban, yaitu harus ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sudah sepatutnya seseorang yang berdoa menampakkan bahwa ia butuh pada Allah dan menganggap dirinya lemah tanpa pertolongan Allah. Ia berdoa dengan yakin bahwa doa itu akan terkabul, entah akan dikabulkan sesuai yang diminta, atau ditunda sebagai tabungan di akhirat,atau akan dipalingkan dari suatu kejelekan.

Semoga doa-doa yang telah dipanjatkan di terima dan dikabulkan oleh Allah ﷻ, Aaamiin yaa Rabbal ‘Alamin.

______

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan ketiga, Tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan.

Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 7/42

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379


*Penulis adalah Kepala SD Islam Al-Umm Malang dan Juga sebagai Mahasiswa STIT Ibnu Sina Malang 










Komentar

Postingan Populer